Mengenang Bapak Para Pendekar…

Mei 6, 2008

Membaca cersil karya Kho Ping Ho, menjadi teringat bahwa Bapak Para Pendekar alias sang pengarang cerita telah pergi mendahului kita.. Namun seperti tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan karya-karya Kho Ping Ho masih tetap memikat untuk dibaca…

Salah satu yang menarik dari cersil yang ditulis oleh Almarhum Kho Ping Ho adalah nasehat yang senantiasa disisipkan diantara jalinan cerita dan serunya perkelahian.. Nasehat itu saya rasakan bersifat universal dan tetap up to date mengikuti jaman..

Salah satunya adalah yang saya kutipkan berikut ini dari buku cersil yang berjudul GELANG KEMALA. Kho Ping Ho demikian piaway memilih dan merangkai kata yang dalam maknanya, namun mudah dimengerti tidak ada kesan menggurui. Ulasan tentang nasib dan bahaya pamrih disampaikan dengan sangat sederhana tanpa mengurangi bobot isinya.

 

Nasib berada di tangan Tuhan dan ditentukan oleh kekuasaan Tuhan. Memang benar. Akan tetapi baik buruknya nasib tergantung dari si manusia sendiri. Manusia diberi peralatan selengkapnya untuk berusaha memperbaiki keadaan dirinya. Tidak mempergunakan segala daya yang ada padanya berarti menyia-nyiakan pemberian anugerah dari Tuhan berupa kehidupan sempurna itu. Baca entri selengkapnya »


Makutharama atau Hasthabrata

April 14, 2008

Makutharama merupakan gabungan dari 2 kata yaitu Makutha dan Rama.. ”Makutha” adalah mahkota yang merupakan kelengkapan busana kebesaran seorang raja, sedangkan ”Rama” yang dimaksud adalah Prabu Rama Wijaya suami Dewi Shinta raja di Ayodya.. Sehingga Makuthorama dapat diartikan sebagai watak yang harus dimiliki oleh seorang raja meniru apa-apa yang telah dicontohkan oleh Prabu Rama Wijaya.. Sedangkan Hasthabrata juga merupakan gabungan dari 2 kata yaitu Hastha dan Brata.. ”Hastha” adalah delapan, ”Brata” adalah laku atau perilaku.. Maka Hastha brata dapat secara bebas dapat diartikan 8 (delapan) perilaku yang layak disandang dan dilaksanakan..

            Dalam cerita pewayangan, Hasthabrata diajarkan oleh Sri Rama kepada Raden Barata ketika dia menyusul ke hutan untuk memohon kepada Sri Rama pulang ke negara Ayodya agar mau menjadi Raja… Namun karena terikat akan janji Ayahandanya yaitu Prabu Dasarata kepada Dewi Kekayi bahwa dia mau diperistri asal putranya kelak yang menggantikan tahta Ayodya, maka Sri Rama tidak mau menuruti bujukan Raden Barata.. Sambil menangis Barata meratap-ratap bahwa Sri Ramalah yang pantas`menduduki tahta Ayodya, bukan dirinya… Akhirnya jalan tengahpun diambil oleh Sri Rama, Barata diperintahkan kembali ke keraton Ayodya dengan membawa tarumpah atau sandal Sri Rama sebagai tanda bahwa Barata dalam menjalankan pemerintahan di Ayodya sebagai Raja hanyalah sebagai badal atau wakil Sri Rama saja… Maka sebagai bekal Barata naik tahta diwejanglah ajaran Hasthabrata ini…

Baca entri selengkapnya »


Anak2ku adalah the 5th generation of Eyang Canggah Kartowiharjo…

April 8, 2008

Sungguh sebuah peristiwa yang sangat langka… Bagaimana tidak ?! Gambar di atas adalah terdiri dari 5 (lima) generasi yang berbeda…. Yang berbaju coklat adalah istriku tercinta.. Sedangkan 2 anak kecil itu adalah buah cintaku bersama Fatma istriku.. Anak perempuan manis yang dipangku ibunya itu bernama Dini dialah anak pertamaku, sedang lelaki kecil ganteng yang tertidur pulas di pangkuan eyangnya itu adalah Fadhil anak ke 2 ku.. Sampai disini saja berarti aku telah menceritakan 3 generasi… Anak2ku, ibu dari anak2ku, dan ibunya ibu dari anak2ku (alias eyang).. Sedangkan duduk paling kanan adalah eyang buyut dari anak2ku yang berarti adalah ibu dari eyangnya anak2ku… terakhir ke2 dari kiri adalah ibu dari eyang buyut anak2ku (alias eyang canggah)… Lima generasi kan… ?!

Yup ! Benar 5 generasi… !! Lima generasi dalam ikatan sedarah lurus ke bawah… Semoga panjang umur sehingga awet momong para canggah, para buyut, para cucu serta para anak… Dan semoga juga anak2ku senantiasa mendapat restu dari para pendahulunya agar mampu mencapai cita2 yang tinggi dan selamat dunia selamat akhirat… mulia di dunia dan mulia pula di akhirat kelak… Amin… (semoga para malaikat semua ikut mengamini dan Allah SWT berkenan ngijabahi… Amin…) 


Gambaran awal pertemuan dengan Sang Dewa Ruci…

April 8, 2008
Rangu-rangu tyasira Sang Bimasena dupi mulat agenging alun. Njegreg meger-meger Sang Bimasena ingkang angagem busana kadewatan. Busana ingkang kaparingaken Sang Hyang Bayu duk nalika maksih salebeting bungkus. Bimasena hangagem suwal sak dhengkul nggilpun mawi dhapur tutuking naga, mratandani sakelangkung santosaning budi. Gegelang dapur naga-banda hanambahi pralambang Gunung Waja. Hangagem nyamping bang-bintulu abang-ireng-kuning-putih mratandhani Sang Bimasena kuwagang hangendaleni catur kanepsoning titah. Hing pasuryanipun ngagem pupuk-mas ingkang nggaler kadya jejaroting asem, agal njawi hananging ing batos hangrawit raos kados dene jejaroting asem. Nyandhang sesupe pudhak-sinumpet mratandani tansah pethak memplak tyase Sang Bimasena. Asesumping wangun manggis sigar sak balibaripun. Tandhane Bimasena sampun napak ing kasampurnaning jiwa raga, cemeng njawi pethak ing lebetipun.
Baca entri selengkapnya »

Kisah Tragis Bambang Ekalaya…

April 7, 2008

Kenalkah anda dengan tokoh ksatriya yang bernama Bambang Ekalaya ? Sebuah kisah tragis mengiringi perjalanan hidupnya… Bambang Ekalaya adalah seorang ksatriya tampan yang mempunyai kemauan keras serta bakat yang luar biasa… Hal itu masih belum cukup untuk menggambarkan pribadinya yang demikian mantap dan gagah berani menapaki kehidupan yang sungguh sangat berat dan berkesan tidak adil pada dirinya..

Bagaimana tidak ?! Atas keinginannya yang kuat untuk belajar memanah pada Begawan Drona, maka dia memberanikan diri untuk menghadap dan memohon untuk bisa menjadi murid Sang Begawan… Karena memang terikat janji pada kekuasaan di Astinapura bahwa Begawan Drona hanya akan mengajarkan ilmu kaprajuritanya pada Pandhawa dan Kurawa saja maka ditolaklah permohonan Bambang Ekalaya… Tidak patah semangat sampai di situ saja, Bambang Ekalaya membuat patung perwujudan Begawan Drona, dan sambil membayangkan bahwa patung itu adalah Begawan Drona yang sesungguhnya maka secara otodidak dia mulai belajar memanah (olah kridhaning jemparing) dan ilmu keprajuritan lainnya.. Hari demi hari, minggu demi minggu secara mandiri dia menganalisa hasil latihannya sedemikian rupa sehingga dia sendiri mampu belajar dari evaluasi kekuarangannya untuk selalu menjadi lebih baik..

Baca entri selengkapnya »


Ringgit tiyang gagrag Ngayogyakarta Hadiningrat..

April 7, 2008

Wayang orang gaya Yogyakarta sangat khas dan mempunyai ciri yang tidak tedapat pada wayang orang pada gaya yang lain… Dengan legitimasi pewaris gaya Mataraman yang masih asli, maka muali dari atribut busana, antawecana, pocapan dan subasitapun mempunyai gaya yang sangat klasik dan khas.. Bahkan tata rias wajahpun tak luput dari ciri khas yang sangat kental terasa citarasa Mataramnya…

Apabila dibandingkan dengan wayang orang gaya Surakarta, maka kadang atribut-atribut busana yang dipakai para paraga wayang orang gaya Yogyakarta terkesan seperti ketinggalan jaman.. Sebutlah atribut Praba sebagai misal, maka pada gaya Yogyakarta masih menggunakan tali yang terlihat jelas melilit di bahu dan lengan bagian atas.. Berbeda dengan Praba gaya Surakarta yang telah mengalami modifikasi sedemikian rupa sehingga menyatu dan tidak diperlukan tali lagi untuk memakainya… 

 

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.