Mengenang Bapak Para Pendekar…

Membaca cersil karya Kho Ping Ho, menjadi teringat bahwa Bapak Para Pendekar alias sang pengarang cerita telah pergi mendahului kita.. Namun seperti tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan karya-karya Kho Ping Ho masih tetap memikat untuk dibaca…

Salah satu yang menarik dari cersil yang ditulis oleh Almarhum Kho Ping Ho adalah nasehat yang senantiasa disisipkan diantara jalinan cerita dan serunya perkelahian.. Nasehat itu saya rasakan bersifat universal dan tetap up to date mengikuti jaman..

Salah satunya adalah yang saya kutipkan berikut ini dari buku cersil yang berjudul GELANG KEMALA. Kho Ping Ho demikian piaway memilih dan merangkai kata yang dalam maknanya, namun mudah dimengerti tidak ada kesan menggurui. Ulasan tentang nasib dan bahaya pamrih disampaikan dengan sangat sederhana tanpa mengurangi bobot isinya.

 

Nasib berada di tangan Tuhan dan ditentukan oleh kekuasaan Tuhan. Memang benar. Akan tetapi baik buruknya nasib tergantung dari si manusia sendiri. Manusia diberi peralatan selengkapnya untuk berusaha memperbaiki keadaan dirinya. Tidak mempergunakan segala daya yang ada padanya berarti menyia-nyiakan pemberian anugerah dari Tuhan berupa kehidupan sempurna itu.

Nasib yang rnenimpa seseorang pasti ada sebabnya dan sebab itu berada di tangan si manusia sendiri. Setiap orang akan memetik bunuh dari hasil tanamannya sendiri. Karena itu, orang yang mengerti benar akan nikmat ini, selalu menanam bibit yang baik, yaitu melakukan semua perbuatan yang baik sehingga buahnya kelak pun baik. Sebaliknya, kalau tertimpa suatu peristiwa, menyenangkan atau menyusahkan, tidak akan menyesal karena maklum bahwa semua itu adalah hasil tanamannya sendiri. Wajarlah kalau yang bersalah menerima hukumannya.

Mengapa menyesal ? Penyesalan yang perlu kita .miltki adalah bertaubat atas kesalahannya dan tidak akan mengulang kembali. Tidak akan menanam bibit yang buruk lagi, melainkan menanam bibit yang baik-baik saja tanpa pamrih, yaitu pamrih untuk kesenangan diri sendiri. Pamrih adalah harapan mendapatkan sesuatu, dan hanya orang yang mengharapkan mendapat sesuatu sajalah yang akan merasa kecewa. Kecewa kalau yang diharapkan itu tidak tercapai, kemudian menjadi bosan dan tidak puas kalau harapan itu terpenuhi, karena yang diharapkan itu kemudian setelah tercapai tidaklah seindah seperti yang dibayangkan semula.

Duka datang bersama perasaan iba diri. Aku ditinggal, aku kehilangan, aku kesepian, aku dirugikan dan semua kenangan mengenai aku yang dirugikan itulah yang mendatangkan rasa iba diri dan menjurus kepada kedukaan. Duka ini dapat pula memperbesar rasa benci terhadap sesuatu yang menjadi penyebab datangnya kerugian itu.

 

Semoga menjadi pencerahan bagi kita semua akan bahaya berbuat baik tanpa dilandasi keikhlasan.. Karena berbuat baik dengan pamrih walau bagaimanapun hanya akan mengotori hati kita.. Selamat jalan Bapak Para Pendekar… Karyamu selalu bersinar… Semoga Tuhan menerima semua amal kebaikanmu dan mengampuni segala kesalahanmu… Amin…

9 Balasan ke Mengenang Bapak Para Pendekar…

  1. bakung16 mengatakan:

    pancen kho ping ho legendaris yo dab.
    jarenya, konon, mitosnya si penulis tinggal nek lereng lawu. Bener ngga tuh?

  2. maswino mengatakan:

    hooh dab… di hampir setiap akhir cerita ono tulisane : lereng lawu tahun… gitu…

  3. Begog mengatakan:

    Bukunya dicetak dengan menyusun hurufnya satu demi satu. Betul kan Pak Wino? Bisa terbayangkan begitu lama dan njlimetnya……………..

  4. maswino mengatakan:

    Betul.. ! Pake mesin ketik manual… hehehe.. ndak bisa cut dan paste… Kalo kata Pak Harmoko, dia gak mau ngetik pake komputer krn justru bunyi mesin ketik manual itu yang membuat ide-idenya bisa mengalir deras… Mungkin Om Kho Ping Ho juga gitu kali ya…

  5. Hongki mengatakan:

    hehehe… aku jadi teringat gaya si Hoo menulis (karena selalu diulang dan diulang dengan kalimat yg nyaris sama) pada fragment kala seseorang mati, dimana yg hidup kemudian menangisi orang yang mati maka tokohnya si Hoo bilang, “kenapa menangis?” lantas yg menangis bilang, “aku menangis karena kasihan yg mati”. Si tokoh berkata lagi, “apakah yg kau tangisi itu dia yg mati ataukah kau menangis karena menangisi dirimu sendiri?” “Menangisi karena setelah mati dia tidak bersamamu lagi dst dst….”

  6. Garibaldi mengatakan:

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Garibaldi.

  7. hermawan mengatakan:

    Assalamualaikum Wr Wb

    Kulo nuwun pak winantu, nyuwun sewu nembe ngertos griya blog-ipun pak win, salut pak win yang telah ikut nguri2 kabudayan jawi, kulo nggih badhe ndamel blog tapi taksih bingung topik punopo ingkang badhe kulo serat he he he

    Wassalamualaikum Wr Wb

  8. Bakung16 mengatakan:

    Kok ndak ada kelanjutan ngeblognya…
    Lagi ngga ada koneksi gratisan po piye?
    he he he…

  9. ario saja mengatakan:

    haduh ga ngerti soalnya ga pernah baca komik/novel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: